Pendidikan di Indonesia   1 comment


Rapuhnya Pendidikan Indonesia

Pendidikan pada dasarnya adalah sebuah sarana atau wadah untuk menampung dan mewujudkan kualitas, bakat, kemampuan seseorang yang berguna untuk masyarakat pada umumnya. Di zaman yang sudah sangat modern ini, seseorang akan benar-benar mendapatkan cap sebagai orang yang tertinggal apabila tidak mengikuti “dunia” yang penuh warna ini. Bagaimana tidak, hampir segala bidang di dalam dunia ini ada cangkupannya di dalam pendidikan baik itu ekonomi, bisnis, kenegaraan dan lain sebagainya, karena pendidikan memasok ilmu yang sangat luas. Berkaitan dengan itu, pendidikan tentu saja memiliki peran penting di dalam pembangunan bangsa ini. Kita bisa menyatakan bahwa pendidikan merupakan jalan perantara negara pada umumnya dan kita pada khususnya untuk mencapai kesuksesan baik di dalam karir maupun dalam pembangunan negara ini. Meski pendidikan memiliki peran vital seperti itu, kita masih melihat banyak sekali problem yang menghambat sekaligus membatasi kita untuk memperoleh pendidikan yang sebaik-baiknya. Biaya, fasilitas, kualitas pendidikan, kualitas pendidik, kurikulum merupakan beberapa contoh hal signifikan yang menjadi problem di dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini. Sedangkan jika kita telaah, hal-hal itulah yang membuat pendidikan di negara Indonesia sangat memprihatinkan.

Sebagai contoh, Belum lama ini sebuah berita menginformasikan kondisi pendidikan di wilayah papua khususnya papua barat sangat memprihatinkan. Dimana fasilitas, pengajar dan kualitas yang sangat terbatas disana menjadi salah satu faktor penyebab pendidikan yang sangat terpuruk. Dalam liputannya, dilaporkan bahwa di sebuah daerah di papua barat masih banyak siswa SD yang “tidak mengenal huruf” atau buta huruf, dimana tenaga pengajar disana hanya 1 orang dengan fasilitas ruangan sangat memprihatinkan, bahkan bisa dikatakan seperti “kandang” yang tidak layak pakai untuk sarana pendidikan. Berikut adalah pernyataan liputan sebuah media yang meliput pendidikan disana. Wartawan Kompas Ichwan susanto dan Edna C pattisina ( Kompas, 12/5 ) yang menuliskan realitas sarana pendidikan di Papua, simaklah apa yang mereka tuliskan:

Sarana pendidikan sungguh sangat terbatas, lihat misalnya SD persiapan Gueintuy di Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, yang ada sekarang baru berupa sekolah di balai kampung, ruangnya juga tidak di sekat, jadi pembeda kelas I dan II berdasarkan susunan kursi plastik yang diatur sejajar dengan jarak pemisah tidak lebih dari 1 meter. Di sisi berlawanan, kursi juga diatur sejajar untuk tempat duduk anak kelas III.

Tak ada meja yang digunakan siswa putra-putri asli Papua itu untuk menulis. Mereka menulis hanya beralaskan pada paha masing-masing. ( Kompas, 12/5 )

Informasi lain yang perlu pembaca ketahui bahwa peringkat pendidikan Indonesia di dunia menempati peringkat 118 dari 177 negara pada peringkat “melek huruf dunia”. Hal ini seharusnya menjadi sebuah “dupakan” bagi pemerintah ketika mendengar dan melihat kondisi seperti ini. Bahkan selain hal tersebut sebelumnya, ada faktor sepele yang memberikan efek yang sangat besar terhadap pendidikan, yaitu biaya. Sudah menjadi persoalan lama, bahwa biaya merupakan salah satu faktor penyebab kurangnya minat pendidikan di Indonesia. Biaya yang tinggi, menjadi alasan para kaum menengah ke bawah untuk memilih tidak menyekolahkan anaknya, padahal ketika kita berbicara hak, setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tetapi faktanya, hanya karena biaya yang sangat tinggi, banyak anak yang tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan sebuah pendidikan.

Hal lain yang perlu kita cermati dalam permasalahan ini adalah kurikulum pendidikan yang selalu berubah hampir di setiap pergantian menteri. Meski secara langsung tidak nampak efek dari kurikulum ini, tapi secara tidak langsung mempengaruhi model pembelajaran tenaga pendidik dan  anak didik. Perubahan yang selalu dilakukan ini sangat tidak efektif jika diterapkan di dalam pendidikan di Indonesia karena sama sekali tidak mengubah kondisi pendidikannya tetapi hanya perubahan model saja. Tetap hasilnya nihil. Kemudian satu lagi yang perlu diperhatikan adalah metode yang digunakan di dalam sistem pendidikan di Indonesia. Metode pembelajaran di dalam dunia pendidikan seharusnya memperhatikan 2 aspek, yaitu kognitif dan afektif. Dua aspek ini sangat berkaitan di dalam metode pembelajaran, dimana ketika hanya salah satu aspek saja yang berjalan, maka metode yang digunakan belum bisa menghasilkan apa-apa. Sedangkan di Indonesia sendiri, masih mengandalkan 1 aspek saja atau bisa dikatakan hanya 1 aspek saja yang selama ini ditekankan di dalam metode pembelajaran yaitu aspek kognitif. Ini berarti bahwa anak didik pada dasarnya hanya mampu untuk berpikir saja tanpa mau merasa apakah itu benar atau salah dan perlu atau tidak sebuah materi yang diberikan. Ini yang menyebabkan metode yang digunakan selama ini belum bisa menghasilkan apa-apa.

Berbicara mengenai pendidikan di negara kita, hal terpenting untuk kita pelajari adalah bagaimana solusi terbaik untuk mengatasi masalah-masalah yang sudah ada tersebut. Disini penulis menguraiakan beberapa solusi yang diharapkan bisa membantu mencari jalan keluar untuk menghadapi problem yang ada.

  1. Perbaikan kualitas

Peran yang sangat dibutuhkan disini adalah peran dari pemerintah, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Tinjauan langsung dari pemerintah ke daerah terpencil seharusnya dilakukan untuk meninjau kondisi sarana dan prasarana di suatu wilayah, dengan harapan adanya perhatian khusus dari pemerintah untuk turun tangan apabila nantinya didapati fenomena negatif yang mempengaruhi suasana pendidikan di wilayah tersebut, seperti fasilitas yang kurang memadai, tenaga pengajar yang terbatas dan lain-lain, sehingga pemerintah dengan cepat bisa menanganinya. Namun tidak hanya itu saja, kita sebagai objeknya pun perlu berusaha untuk selalu mengembangkan dan memanfaatkan fasilitas yang ada ketika sudah ditangani nantinya.

  1. Manajemen dana

Maraknya pemberitaan mengenai rencana DPR untuk membangun gedung baru, menarik perhatian penulis untuk berpendapat bahwa alangkah baiknya dana yang akan dikeluarkan untuk pembangunan gedung tersebut digunakan untuk membenahi sarana dan prasarana juga fasilitas dalam dunia pendidikan di berbagai wilayah yang benar-benar membutuhkan perubahan besar. Karena pada dasarnya, pembangunan negara yang sudah mulai tertata ini bergantung pada kualitas pendidikan yang diberikan kepada calon penerus bangsa. Semakin baik kualitas yang diberikan, semakin baik pembangunan bangsa nantinya.

  1. Belajar dari negara lain

Belajar dari negara lain yang termasuk kategori maju dalam dunia pendidikan khususnya, seperti Finlandia. Finlandia menempati peringkat pertama kualitas pendidikan. Ini bisa menjadi perbandingan dan motivasi untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia.

Beberapa solusi tersebut hanya sebagai sebuah pandangan yang diharapkan dapat memberikan jalan keluar untuk menangani beberapa permasalahan yang sudah hampir mendarah daging di dalam pendidikan di Indonesia demi kemajuan pendidikan itu sendiri.

Pendidikan yang sangat memprihatinkan di negara kita selayaknya mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan tentu saja dari diri kita sendiri untuk senantiasa berusaha memperbaiki kiualitas diri sendiri dan juga pendidikan demi terwujudnya kualitas diri yang lebih baik dan pembangunan negara yang lebih baik pula untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: